Nilai Tukar Petani Banten 2026 Menurun

BANTEN – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Banten mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2026 mengalami penurunan sebesar 1,59 persen menjadi 109,41.
Penurunan ini mengonfirmasi semakin lemahnya daya beli petani di tengah melonjaknya biaya hidup di perdesaan.
Kondisi paling kritis dialami oleh para petani di Subsektor Tanaman Pangan (padi dan palawija) yang mengalami terjun bebas sebesar 2,58 persen. Ironisnya, para produsen pangan ini justru “dihajar” oleh kenaikan harga makanan mereka sendiri.
Data BPS menunjukkan adanya tekanan ganda yang menjepit petani. Indeks Harga yang Diterima Petani atau pendapatan petani dari hasil panen merosot 0,60 persen. Sebaliknya, Indeks Harga yang Dibayar Petani yang mencakup biaya konsumsi justru membengkak 1,01 persen.
Pemicu utama penurunan daya beli ini bukanlah biaya produksi di sawah, melainkan inflasi kebutuhan rumah tangga. Kelompok pengeluaran Makanan, Minuman, dan Tembakau di perdesaan melonjak hingga 1,85 persen. Sementara itu, harga komoditas utama seperti padi justru turun sebesar 1,62 persen.
Baca juga Teknologi Digital Farming Cara Baru Tanam Cabai Fasilitasi BI Banten untuk Petani Pandeglang
Di tengah keterpurukan petani padi, subsektor Hortikultura dan Perikanan Budidaya justru menunjukkan tren positif. NTP Hortikultura naik 1,54 persen dipicu meroketnya harga sayur-sayuran seperti melinjo (14,16 persen) dan tomat (12,64 persen). Perikanan Budidaya juga mencatat kenaikan NTP sebesar 1,80 persen.
Kondisi Banten juga terpantau kontras dengan tren nasional. Di saat NTP Nasional naik 1,50 persen, Banten justru menjadi salah satu provinsi yang mencatatkan penurunan signifikan.
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pertanian Provinsi Banten, Saiful Bahri mengatakan, penurunan NTP disebabkan oleh kondisi cuaca.
“Hujan disaat petani sedang panen, yang menyebabkan beberapa hektare kebanjiran dan puso. Dan yang panen menjadi tidak optimal,” katanya melalui pesan singkat Whatsapp, Sabtu (07/03/2026).
Untuk mengatasi hal tersebut, solusi jangka pendek yakni mengganti benih kepada petani yang mengalami gagal panen. Serta alsintan yang bisa mempercepat proses panen.
“Jangka panjang memperbaiki kondisi irigasi sehingga banjir bisa dihindari,” tuturnya. (ukt)




